Brainking Nutrition | Brainking Plus | Testimoni Brainking Ibu Rosita

8. Ibu Rosita, Penatih – Bali

Anak saya > Tito, 10 thn Kelas 5 SD, pada awalnya belajarnya sangat kurang sekali, kalaw di perintah belajar susah sekali, ulangan selalu nilai nya 6 s/d 7. Tetapi setelah saya berikan {Brainking Plus} selama 1 – 2 minggu, terjadi perubahan yang luar biasa terhadap anak saya. Tito sekarang rajin belajar tanpa disuruh dan nilai ulangan nya meningkat jadi 9.5 s/d 9,8, aduh saya bangga sekali dengan produk ini. Terima kasih Bigking Science.





 Brainking Plus | Brain Nutrition Internasional | Brainking Plus Indonesia



Kita ketahui bersama Sering kali seorang anak yang tidak taat kepada orang tuanya atau sering sekali membuat masalah di dalam keluarga kita atau di masyarakat disebut sebagai anak yang nakal. Bagi kita pribadi hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Selama anak-anak tidak terjerumus ke dalam perbuatan merugikan seperti tindak kriminal, dan kejahatan lainnya, kenakalan seorang anak masih sangat bisa dikatakan wajar.

Saya teringat ketika masih duduk di bangku SMA. Saya memiliki seorang teman yang boleh dikatakan sangat nakal. Apalagi, guru-guru kami tidak sedikit yang memberi dia label nakal karena dia pernah kedapatan membawa senjata tajam ke sekolah hingga suatu hari terpaksa dia harus dikeluarkan dari sekolah karena kenakalannya. Kekhawatiran yang dialami oleh para guru beralasan, dikhawatirkan jika teman saya ini tetap berada di lingkungan sekolah dapat menjadi pengaruh buruk bagi teman-temannya yang lain sehingga keputusan pihak sekolah mengeluarkan dia dari sekolah dirasa adalah pilihan terbaik saat itu.
begitu nakalnya.

Setelah 11 tahun berpisah, suatu hari saya bertemu kembali dengan teman saya tersebut. Dia telah menikah dan memiliki seorang anak, dia bekerja sendiri dalam artian dia sekarang adalah seorang pengusaha. Kami berbincang-bincang dan saling melepas kangen. Di tengah-tengah percakapan dia mengatakan selepas dikeluarkan dari sekolah dia tidak meneruskan pendidikannya lagi dan lebih memilih bekerja di luar kota. Hingga pada suatu hari keberuntungan berpihak kepadanya, dengan kegigihannya dia telah mengembangkan usaha kecilnya menjadi semakin maju tiap tahunnya. Dia sekarang telah menjadi seorang yang bisa dikatakan sukses, keluarganya bahagia dan dia sama sekali berbeda karakternya dari seorang yang pernah saya kenal 11 tahun yang lalu.

kitakan  jadi berpikir, adalah tidak adil bila seseorang dicap sebagai seseorang yang nakal kalau cuman dilihat dari sisi perilakunya saja. Ibarat sebuah buku kita menghakimi isinya hanya dengan melihat sampul luarnya saja. Di dalam tulisan saya kali ini, saya mencoba mencari tahu apa yang menyebabkan seorang anak bertindak tidak semestinya. Bagi saya sejauh seorang anak tidak melakukan tindakan kriminal dia tidak bisa dikatakan nakal, yang ada hanyalah:
Anak yang memiliki kontrol diri yang lemah

Adalah seorang anak yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku “nakal”. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Anak yang kurang kasih sayang orang tua

Orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya sering kali menyebabkan kurang perhatian kepada anaknya. Tidak mengenalkan dan mengajarkan norma-norma agama kepada anaknya. Saat di sekolah ia akan berulah macam-macam untuk mendapat perhatian dari orang lain, termasuk kepada gurunya.
Anak yang kedua orang tuanya tidak harmois atau bahkan bercerai

Suasana di rumah yang tidak nyaman akan menyebabkan anak tidak fokus saat di sekolah. Kedua orang tua yang seharusnya melidungi dan memberi contoh yang baik justru menjadi akar permasalahan sebenarnya.
Anak yang menjadi “korban” dari saudara atau teman sepermainannya

Tipe anak seperti ini akan melakukan hal yang sama pada anak lainnya karena ia adalah “korban” dan berusaha untuk membalas dendam.
Anak yang mendapat tekanan dari orang tua

Tekanan ini bisa berupa tuntutan orang tua yang terlalu tinggi akan prstasi anaknya di sekolah atau peraturan di rumah yang terlalu ketat/mengekang. Akibatnya bisa bermacam, anak bisa pendiam tapi juga bisa “nakal” karena merasa ingin bebas.
Anak yang mengalami kekerasan dalam lingkungan keluarga

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya masalah ekonomi. Anak yang mengalami kekerasan di rumah, maka saat di sekolah ia akan menunjukkan sikap memberontak atau bahkan melakukan kekerasan seperti apa yang ia alami.

Anak yang salah bergaul

Lingkungan sekitar tempat tinggal memang sangat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan perilaku seorang anak. Pergaulan yang kurang tepat atau salah dalam memilih teman bisa menyebabkan perilaku yang menyimpang.
Demikianlah pendapat saya bahwa sesungguhnya seorang anak tidak patut dihakimi sebagai seorang yang nakal sebelum mengetahui latar belakang permasalahan dia sebenarnya. Harapan saya adalah sebagai orang tua atau pendidik di sekolah, Anda tidak lagi mudah memberi label seseorang sebagai seorang yang nakal sebelum menyelidikinya dan berusaha dengan sebaik mungkin membantunya untuk berubah.


0 komentar:

Posting Komentar

ATTENTION PLEASE..!! WHEN YOU BUY IT !!